komodifikasi agama dibalik sinetron religi

Paper

Komodifikasi Agama Dibalik Sinetron Religi

Latar Belakang

Perubahan sosial yang ditandai dengan modernisasi membuat sekat didalam negara-negara menjadi tidak ada. Masyarakat informasi-demikian menurut Fukuyama- cenderung memproduksi dua hal yang dinilai masyarakat menjadi penting pada zaman ini. Kedua hal tersebut adalah kebebasan dan persamaan. Menurut Fukuyama kebebasan dan persamaan telah mengarahkan masyarakat untuk memilih terhadap apapun yang sesuai dengan dirinya. Modernisasi menyediakan seperangkat alat yang mendukung sepenuhnya terhadap keputusan itu seperti adanya internet, TV Kabel dan sebagainya.[1] Perubahan yang mengisyaratkan sebuah nilai baru yakni kebebasan dan persamaan ini ternyata berdampak pula terhadap kehidupan spiritualitas seseorang. Perubahan tersebut dalam arti proses atau cara memperoleh kebenaran beragama.

Pada umumnya, pengetahuan mengenai agama diperoleh melalui dua jalan yakni melalui pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal diwakili oleh lembaga pendidikan agama seperti sekolah agama ( MI, MTS, MA, dan Universitas Islam) dan pondok pesantren. Sedangkan pendidikan informal diwakili oleh ustaz maupun kyai di masjid-masjid maupun oleh keluarga. Namun, dengan kehadiran media informasi terutama televisi terjadi perubahan yang signifikan mengenai cara-cara masyarakat dalam memperoleh pengetahuan agama (Islam). Gejala tersebut dapat dibaca dari tayangan-tayangan yang sifatnya religius di beberapa stasiun televisi swasta. Sebagai contoh adalah program “Curhat Mamah Dede” yang di siarkan oleh stasiun televisi Indosiar. Melalui tayangan ini, masyarakat bisa mendapatkan pengetahuan-pengetahuan agama yang hampir sama dengan yang diajarkan di lembaga pendidikan islam maupun pesantren.

Tayangan-tayangan religi tersebut setidaknya dapat memenuhi kebutuhan dua segmen struktur masyarakat. Kedua segmen masyarakat tersebut adalah masyarakat abangan yang haus akan pengetahuan agama dan santri yang menginginkan tontonan religius. Bagi kaum abangan pilihan tayangan religi merupakan pintu keluar dalam memperoleh pengetahuan agama. Kaum abangan biasanya merasa malu kalau mendekati masjid. Alasan klasik yang biasa terlontar dari kaum abangan adalah menganggap dirinya masih “kotor.” kalau tiba-tiba masuk ke masjid untuk ibadah. Sedangkan kaum santri beralasan karena tayangan-tayangan religius ini lebih mendidik daripada tayangan-tayangan yang lain. Pilihan kaum santri terhadap tayangan ini juga berangkat dari sebuah nilai bahwa Islam adalah agama yang mengatur seluruh kehidupan manusia. Apabila ingin menjadi muslim yang kaffah (menyeluruh/lengkap) maka tayangan-tayangan televisi pun juga harus yang islami. Disisi lain, pilihan tayangan ini juga merupakan bentuk ekspresi dari ketidaksepakatan terhadap tayangan-tayangan yang beredar selama ini yang banyak menyuguhkan seksualitas, kekerasan dan mimpi-mimpi.

Hadirnya media komunikasi sebagai ciri dari masyarakat rasional membuat struktur dan relasi sosial kegamaan menjadi berubah. Simbiosis yang saling menguntungkan diperagakan beberapa stasiun media komunikasi seperti terutama televisi dan radio beberapa waktu yang lalu. Contohnya adalah relasi antara Aa Gym yang merupakan representasi dari simbol agama (ustaz, kyai) dengan stasiun televisi yang menayangkan ceramah-ceramahnya. Beberapa waktu yang lalu, nama Aa Gym cukup populer dikalangan masyarakat Indonesia. Setiap ceramahnya dihadiri dan disaksikan beribu-ribu pasang mata. Dalam perspektif kapitalistik, pihak televisi diuntungkan dengan membanjirnya iklan yang diterima sedangkan si pengiklan merasa sangat diuntungkan karena akan banyak masyarakat yang melihat produk yang dipasarkannya.

Dalam konteks keagamaan, selain ceramah keagamaan yang dikomoditaskan, ada satu lagi tayangan televisi yang berusaha menjual simbol-simbol agama untuk kepentingan pasar. Tayangan tersebut adalah sinema elektronik atau jamak disebut sinetron. Awalnya, sinetron merupakan tayangan hiburan semata layaknya sebuah film. Ekspansi pasar dalam bentuk mengkomoditaskan yang agamis memunculkan sebuah gejala baru yakni fenomena sinetron religi.  Sampai detik ini keberadaan sinetron religi masih eksis ditengah-tengah masyarakat. Sinetron-sinetron religi biasanya mengangkat isu-isu agama (Islam) dalam setiap lakonnya. Tema-tema seperti azab kubur, hidayah, dan kesalehan relijius ditayangkan seolah memberikan kesan bahwa sinetron-sinetron tersebut memberikan pendidikan agama pada masyarakat. Namun, apabila dicermati lebih jauh tayangan-tayangan tersebut hanya memberikan imajinasi-imajinasi relijius semata dan terkadang malah bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

Gejala komodifikasi Islam yang mewujud kedalam sinetron religi tersebut, sebetulnya  telah berlangsung di Indonesia secara lebih intens setidaknya dalam dasawarsa terakhir. Dan, komodifikasi tersebut bisa dipastikan selalu mencapai puncaknya sepanjang bulan Ramadan. Gejala ini bisa dilihat di seluruh stasiun swasta. Konsumsi sinetron ini sangat diminati terutama oleh ibu-ibu dan kaum remaja putri.

Beberapa stasiun televisi swasta menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk menayangkan sinetron-sinetron yang berbau religi. Beberapa stasiun televisi yang getol menayangkan sinetron-sinetron yang bernafaskan religi tersebut diantaranya Indosiar, RCTI, SCTV dan TPI. Beberapa stasiun televisi nampak juga menayangkan siaran-siaran religi namun menghindari sinetron. Stasiun televise yang digolongkan kedalam katagori ini diantaranya TV One, Trans TV, Trans 7 dan AN TV. Biasanya mereka menayangkan program-progran ceramah yang telah dimodifikasi dan juga tayangan yang sifatnya out door. Fenomena sinetron religi menarik untuk diamati karena disatu sisi sinetron religi merupakan pintu masuk bagi penyebaran nilai-nilai agama disisi lain ternyata tangan-tangan kapitalisme melalui Production House (Rumah Produksi) menggunakan kesempatan ini untuk memupuk keuntungan. Mereka tidak peduli benar dan salah pesan-pesan yang dibawa oleh sinetron, namun mereka lebih peduli terhadap besar kecilnya rating dalam sinetron tersebut. Mengkomoditaskan suatu kebudayaan yang sebetulnya bersifat positif.

  1. A. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka tulisan ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Bagaimana bentuk dan proses komodifikasi agama dalam tayangan sinetron religi dilihat dari perspektif McDonaldisasi?
  2. Mengapa terjadi komodifikasi agama malalui tayangan sinetron religi?
  3. B. Tujuan Penulisan
  4. Mendeskripsikan bentuk dan proses komodifikasi agama melalui sinetron religi dalam perspektif McDonaldisasi
  5. Untuk mengetahui penyebab dari terjadinya fenomena komodifikasi-komodifikasi agama malalui sinetron religi.

 

  1. C. Kerangka Teoritik

Kapitalisme adalah sebuah sistem yang memproduksi komoditas-komoditas, dan secara natural penciptaan komoditas adalah inti dari praktek ideologi kapitalisme. Kerangka kerja kapitalisme memahami keinginan-keinginan dalam kerangka komoditas-komoditas yang diproduksi berkaitan dengannya. Komoditas tersebut senantiasa menjadi pendukung utama dari ide mengenai kapitalisme. Dalam logika kapitalisme, sesuatu yang dianggap bernilai dan berharga tidak lebih komoditas yang diperdagangkan. Logika ini tidak hanya menyentuh benda-benda ekonomi saja, namun juga menyusup kedalam relasi-relasi social kehidupan manusia.

Menurut Azra yang mengutip dari Greg Fealy istilah komodifikasi berasal dari commodity, yang antara lain berarti benda komersial atau objek perdagangan. Jadi, komodifikasi Islam adalah komersialisasi Islam atau mengubah keimanan dan simbol-simbolnya menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk mendapat keuntungan.[2] Selanjutnya dalam analisis masyarakat konsumsi menurut Boulldriard masyarakat yang terkomodifikasi adalah sebuah masyarakat dimana segala sesuatu mengalami komodifikasi dalam artian segala sesuatunya berubah menjadi komoditas. Suatu masyarakat dimana tidak ada sesuatupun yang tidak dapat dipertukarkan termasuk di dalamnya hal-hal nonmaterial yang sebelumnya dianggap bukan untuk diperjualbelikan seperti ilmu pengetahuan dan seni.[3] Komodifikasi menurut perbendaharaan kata dalam istilah marxis[4] adalah suatu bentuk transformasi dari hubungan, yang awalnya terbebas dari hal-hal yang sifatnya diperdagangkan menjadi hubungan yang sifatnya komersil. Dalam artian bahwa hubungan sosial ter-reduksi menjadi hubungan pertukaran. Komodifikasi juga merupakan istilah yang hanya ada dalam konsep jual-beli di tahun 1977, namun mengekspresikan konsep fundamental atas penjelasan Karl Marx tentang bagaimana kapitalisme terbangun.

Selanjutnya Karl Marx dalam bukunya Communist Manifesto, mendefinisikan komodifikasi sebagai “Callous Cash Payment”, yakni “pembayaran tunai yang tidak berperasaan”. Ia menggambarkan bahwa kaum kapitalis yang mempunyai kontrol atas apapun telah mengubah nilai-nilai personal menjadi nilai tukar, mengubah hubungan sentimental dalam keluarga menjadi hubungan yang mempergunakan uang. Sehingga segala sesuatu tidak akan bernilai jika tidak mempunyai nilai tukar. Dalam analisis mengenai hubungan agama dengan kapitalisme, maka kesimpulannya adalah agama hanya dilihat sebagai sebuah komoditas.    Kehadiran sinetron religi merupakan komoditas yang berpotensi untuk dieksploitasi.[5]

Permasalahan komodifikasi dalam tulisan ini akan dianalisis dalam kerangka teori McDonaldisasi yang ditulis oleh George Ritzer. George Ritzer menulis buku dengan judul “McDonaldization of Society: An Investigation into the Changing Character of Contemporary Social Life” pada tahun 1995. Isinya membahas kesuksesan McD dan pengaruhnya terhadap perubahan karakter dan kehidupan sosial masa kini. Prinsip-prinsip kerja dalam restoran cepat saji McDonald menjadi pijakan dalam tulisan ini.

Pada prinsipnya, dasar teoritisasi dari perspektif McDonaldisasi bersumber pada pemikiran Max Weber mengenai rasionalitas. Manusia modern menurut Weber adalah manusia yang menggunakan rasio atau akalnya untuk bertindak. Akumulasi dari akal budi ini mewujud kepada ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai dasar utama manusia dalam bertindak. Rasionalitas ini juga membuka keran baru bagi lahirnya produksi pengetahuan selain dari Gereja. Weber sendiri melihat birokrasi adalah wujud sempurna bagi sebuah rasionalitas. Melalui birokrasi, manusia rasional menemukan bentuk-bentuk ideal dalam membentuk realitas sosial. Tujuan akhir dari birokrasi ini adalah membuat manusia lebih tertata, teratur dan sejahtera. Namun pada akhirnya birokrasi-birokrasi yang diciptakan manusia tidak menjadikan manusia menjadi sejahtera tetapi malah terkekang dan membuat manusia menjadi sengsara hidupnya.

Menurut Hokheimer dalam menghadapi dan mengupayakan untuk menjadi rasional ini, ternyata manusia mengalami kegagalan dalam usahanya. Makin manusia membebaskan diri dari akal budi obyektifnya maka makin melulu akal budi manusia menjadi instrumentalis. Makin manusia berusaha membebaskan diri dari alamnya maka semakin keras pula alam menindasnya. Kemudian makin manusia menemukan identitasnya maka makin kuat pula manusia menghancurkan identitasnya.[6] Rasionalitas sendiri dapat diterjemahkan sebagai modernisme. Suatu masyarakat yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat atau instrument utama. Basisnya adalah rasio atau akal. Dalam perspektif ini sumber kebenaran adalah pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Di luar itu kebenaran akan ditolak. Seperti halnya di masa lalu sebelum datang zaman pencerahan, dimana sumber kebenaran adalah Gereja. Di luar Gereja tidak ada kebenaran. Maka hal inilah yang mengilhami lahirnya Teori Kritik.

Dalam dunia kontemporer, penggambaran rasionalitas tersebut barangkali dapat dicermati dalam teks-teks dalam film yang berjudul Eagle Eye (2008). Film itu bercerita mengenai bagaimana usaha dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk melindungi rakyat Amerika dari ancaman terorisme. Eagle eye adalah sebuah  proyek simulasi. Proyek ini pada nantinya akan dipakai dan diterapkan apabila Pemerintah Pusat Amerika tidak bisa menjalankan pemerintahannya lagi karena diserang oleh teroris. Eagle eye sendiri merupakan computer pusat data yang dimiliki oleh Departemen Pertahanan AS. Sebuah program yang menghubungkan dan mengkoneksikan   jaringan komputerisasi seluruh negara AS. Kira telah mengetahui sepenuhnya bahwa hampir semua kehidupan warga negara AS dikontrol oleh program-program computer. Tujuannya adalah untuk memudahkan dan mengefektifkan seluruh jejaring kehidupan. Eagle Eye ini bisa memberi gambaran situasi dengan jalan memberikan data-data yang diakses dari seluruh jaringan komputer di AS baik yang terkoneksi melalui internet maupun tidak. Selanjutnya Eagle Eye memberikan prediksi dan kemungkinan tindakan yang harus diambil oleh si pengambil kebijakan dalam hal ini adalah Departemen Pertahanan. Eagle Eye ini juga bisa mengambil keputusan sendiri apabila keputusan yang diambil oleh Departemen Pertahanan ternyata bertentangan dengan yang ia sarankan. Dalam konteks rasionalitas tadi, hal inilah yang ternyata menjadi blunder dari manusia yang menciptakan Eagle Eye ini. Usaha manusia untuk menjadi aman ternyata malah membuat manusia tidak aman. Di akhir film ternyata Eagle Eye dihancurkan karena membunuh dan juga mengancam kehidupan. Dengan deimikian rasionalitas melah membuat manusia menjadi terancam kehidupannya.

Mengenai rasionalitas, Weber membagi tindakan manusia menjadi empat jenis. Semakin rasional tindakan itu, semakin mudah dipahami. Keempat tipe itu adalah:

1. Zwerk Rational

Yaitu suatu tindakan sosial murni. Dalam tindakan ini aktor tidak hanya sekedar menilai cara yang baik untuk mencapai tujuannya tetapi juga menentukan nilai dari tujuan itu sendiri

2. Werk Rational Action

Dalam tindakan tipe ini aktor tidak dapat menilai apakah cara-cara yang dipilihnya itu merupakan cara yang terbaik dan tepat untuk mencapai tujuan. Ini menunjuk kepada tujuan itu sendiri. Dalam tindakan ini  antara tujuan dan cara-cara mencapainya cenderung sukar untuk dibedakan. Namun tindakan ini rasional karena pilihan terhadap cara-cara sudah menentukan tujuan yang diinginkan.

3. Affectual Action

Tindakan yang dibuat-buat. Tindakan susah dipahami. Tindakan ini dipengaruhi oleh perasaan emosi dan kepura-puraan si aktor. Dibuat-buat dan sering tidak rasional.

4. Traditional Action

Yaitu suatu tindakan yang didasarkan atas kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu dimasa lalu.[7]

Selanjutnya, Ritzer meminjam analisis Weber mengenai rasionalitas ke dalam teori McDonaldisasinya. Empat kata-kata kunci dari teori McDonaldisasi adalah efisien, kalkulabilitas, prediktabilitas, dan substitusi tenaga manusia kepada teknologi. Efisiensi digambarkan Ritzer yaitu dengan memberikan pelayanan yang cepat dengan sedikit upaya yang harus dilakukan oleh konsumen.[8] McDonaldisasi menerapkan juga prinsip kalkulabilitas, alias aspek kepastian terukur tentang kuantitas produk yang diperoleh. Semua orang tahu, berapa kocek yang harus dirogoh kalau ingin makan dua potong burger, termasuk besar rotinya. Atau, jika ingin makan yang lebih besar, orang pasti memesan BigMac, bukan yang medium. Logika ini menawarkan kuantitas daripada kualitas.[9]

Unsur lainnya adalah prediktabilitas. Dalam hal ini, semua orang tahu persis, bahwa produk dan jasa yang mereka beli akan sama di mana pun mereka cari di dunia. Rasa French fries alias kentang goreng di Surabaya tak ada bedanya dengan yang di Los Angels. Demikian juga dengan sistem kerja mereka sudah dapat diprediksi, berapa lama waktu untuk masak, umpamanya. Sedangkan unsur terakhir adalah kontrol ketat lewat substitusi tenaga manusia kepada teknologi. Jalur produksi yang sudah ditetapkan atau menu yang sudah diatur sehingga orang hanya bisa memesan sesuai menu yang ditetapkan, merupakan contoh dari betapa terkendalinya kegiatan usaha tersebut. Termasuk tentang perilaku dan kerja pegawainya juga distandarisasi. Orang bekerja tidak perlu berpendidikan tinggi, karena orang yang hanya lulus SD pun bisa bekerja karena hanya membutuhkan kehlian membaca instrumen-instrumen dan pengarahan-pengarahan. Di sini manusia diposisikkan layaknya robot yang bekerja tanpa emosi.

 

  1. D. Pembahasan
    1. 1. Sinetron Religi dalam Pusaran Media Kapitalistik

Komodifikasi Islam menjadikan Islam sebagai sebuah komoditas, apalagi komersialisasi Islam boleh jadi membuat banyak kalangan umat Islam mengerutkan dahinya. Apalagi, secara tradisional, banyak ulama menyatakan, agama tidak boleh dijadikan barang dagang untuk mendapat keuntungan dari penjualan dan perdagangan simbol-simbol agama. Bahkan, para ulama, ustadz, dan mubalig diharapkan tidak mendapatkan nafkah dari kegiatannya berdakwah. Komodifikasi Islam boleh jadi membuat kehidupan keislaman kelihatan penuh syiar dan kemeriahan. Tetapi juga, bisa membuatnya menjadi dangkal karena bergerak sesuai dengan kemauan pasar. Jika yang terakhir ini yang terjadi, semarak keagamaan niscayalah dapat kian kehilangan maknanya

Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang menyolok antara sinetron konvensional dengan sinetron religi.  Kedua tayangan ini sama-sama menginginkan masyarakat (pasar) untuk menjadi penikmatnya. Keberhasilan program dari tayangan televisi biasanya ditentukan oleh rating yang ditentukan oleh lembaga independen. Tayangan dikatakan baik, apabila menduduki rating tinggi dalam penilaian surveinya. Survey tentang rating juga sekaligus menjadi bahan pertimbangan untuk meneruskan atau menghentikan program-program siaran televisi.

Tayangan televisi seperti sinetron merupakan bagian kecil dari sebuah system media massa di masyarakat kapitalistik. Menurut Denis McQuail&Sven Windhal sistim media liberal kapitalistik dengan mencontoh model Amerika adalah sebuah system yang dibangun oleh empat elemen. Keempat elemen tersebut adalah pertama, audiens yang dibedakan menurut hipotesis distribusi selera atau tingkat kecondongan menjadi tinggi, menengah dan rendah. Kedua, meliputi agen-agen financial dan komersial yang menyediakan modal untuk memproduksi media, membeli dan menyewa ruang iklan, dan memperoleh penghasilan sendiri melalui kegiatan bisnis lain. Agen-egen ini menggunakan riset-riset pemasaran untuk melihat kecondongan selera publik, daya beli, kebiasaan audiens, dan kepentingan-kepentingan pemasang iklan. Tugas utama mereka adalah mencari informasi kecenderungan audiens dan menyediakan umpan balik yang tajam kepada produser-produser, serta member dukungan financial. Ketiga, produksi media dan organisasi-organisasi distribusi. Kebanyakan adalah perusahaan swasta yang harus bekerja berdasarkan keuntungan dalam system produksi massal. Keempat, peraturan-peraturan umum dan lembaga-lembaga pengawasan yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta (semacam lomba konsumen media) dengan berbagai macam tekanan. Lembaga-lembaga ini menerima masukan umpan balik dari public, terkadang melalui system politik. Kegiatanm mereka bias langsung mempengaruhi produser-produser media, baik melalui undang-undang isi media atau lewat penganwasan teknis dan financial yang diaplikasikan dalam kepentingan publik, misalnya pengawasan terhadap gelombang radio atau monopoli. Elemen ini bertindak sebagai penyeimbang kepentingan swasta komersial.[10] Kebutuhan pengetahuan agama Islam yang diinginkan oleh kaum santri dan abangan ditangkap oleh system media kapitalistik sebagai lahan emas untuk proses akumulasi capital. Di lapangan dapat kita saksikan sinetron-sinetron religi yang hanya mengutamakan kuantitas daripada kualitas.

  1. 2. Melacak Komodifikasi Agama Melalui Dua Sinetron Religi

Dua sinetron religi yang akan dilihat dalam tulisan ini adalah sinetron “Muallaf” dan “Para Pencari Tuhan.” Sinetron “Muallaf” bercerita mengenai Dave seorang pemuda atheis yang berasal dari keluarga kaya yang sudah berputus asa dari kesembuhan penyakit kanker otak yang sudah lama dideritanya. Selain itu Dave sudah ditunangkan oleh orang tuanya dengan Priti padahal Dave tidak mencintai gadis itu. Dan sejak pertemuannya dengan gadis buta bernama Nurhaliza, hidup Dave pun berubah. Selain Dave, ada pemuda lain yaitu Furqon yang sejak lama mencintai Nurhaliza. Dan Furqon adalah seorang dosen yang sangat disukai oleh adik perempuan Priti yang bernama Diva. Selanjutnya, Dave telah menganggap Nurhaliza sebagai malaikat penyelamat dalam hidupnya meskipun Nurhaliza adalah anak seorang wanita bernama Sadiah, yang bekerja sebagai tukang cuci pakaian di rumah keluarga Bu Berlian namun Dave semakin bersimpati dan jatuh cinta pada Nurhaliza, gadis solehah itu. Sinetron ini dibintang oleh Sahrul Gunawan sebagai Dave, Happy Salma sebagai Nurhaliza “Izza”, Hengky Kurniawan sebagai Furqan, Inne Azri sebagai Priti, gadis yang mau ditunangkan dengan Dave, Intan Fairuzia sebagai Berlian, ibunya Priti, Rizal Djibran sebagai papanya Dave dan Eva Malik sebagai ibunya Izza, tukang cuci di keluarga Priti. Sinetron ini ditayangkan stasiun televisi Indosiar mulai 1 Juni 2009 Senin-Jumat, pkl. 18.30 WIB. Soundtrack Sinetron Muallaf berjudul “Dengan-Mu Aku Hidup” yang dinyanyikan oleh Opick.

Sinetron religi yang lain yakni “Para Pencari Tuhan” ditayangkan oleh stasiun televisi SCTV. Biasanya sinetron ini ditayangkan ketika bulan Ramadan. Kini sinetron “Para Pencari Tuhan” sudah sampai pada jilid III. Dua jilid sebelumnya telah sukses karena memiliki rating yang tinggi dalam setiap penayangannya. Sinetron “Para Pencari Tuhan” berkisah tentang kehidupan seorang merbot (penjaga mushala) bernama Bang Jack (Deddy Mizwar) dan ketiga muridnya yang mantan narapidana, yaitu Chelsea (Melki Bajaj), Barong (Aden Bajaj), dan Juki (Isa Bajaj). Setelah keluar dari penjara, Barong diusir dari komplotan curanmor lantaran sering menyanyi di pengadilan. Setali tiga uang, Juki yang mantan copet, ditolak mentah-mentah saat kembali ke rumah ibunya. Nasib Chelsea agak berbeda. Ketika akan mengajak rujuk kembali dengan mantan istrinya, Marni (Anggia Jelita). Ternyata sang istri sudah menikah dengan Sumarno, polisi yang menjebloskannya ke penjara. Akhirnya mereka bertiga secara tak sengaja bertemu dan luntang-lantung menyusuri Jakarta yang tak lagi ramah. Seharian mereka menjumpai warung tutup. Hati mereka makin sakit, merasa dunia sudah benar-benar menutup diri bagi mereka. Mereka baru tersadar saat ada yang memberitahu bahwa hari ini adalah hari pertama bulan puasa, sehingga tak ada orang makan di warung. Ketiganya kemudian terdampar di sebuah mushala bernama At-Taufiq. Di sana ada Bang Jack, penjaga mushala yang fanatik dengan bedug. Dia tak mau adzan jika belum menabuh bedug. Mantan tukang jagal ini akhirnya tak hanya menerima ketiga narapidana tersebut tapi sekaligus sudi membimbing mereka ke jalan yang benar. Sebenarnya ilmu agama Bang Jack sendiri pas-pasan sehingga dalam penerapan agama sering keliru. Untunglah ada Aya (Zaskia Adya Mecca) yang membantunya. Gadis cantik penjual kolak dan pengelola perpustakaan gratis ini paham soal agama. Aya adalah adik ipar Ustad Ferry (Akri Patrio), sang ketua pengurus mushala, yang pamornya tengah menanjak setelah menjadi komentator di sebuah televisi. Belakangan pupolaritasnya tersaingi oleh istrinya sendiri, Haifa (Annisa Suci Wulandari). Dalam sinetron ini juga ditampilkan hubungan yang unik antara Bang Udin (Udin Nganga), seorang hansip, dan sahabatnya Asrul (Asrul), seorang pria beristri satu beranak empat, dengan Pak Jalal (Jarwo Kuat). Bang Udin dan Asrul sering merasa kesal dengan Pak Jalal yang merupakan orang paling kaya di kampungnya. Sekesal apapun mereka tetap mendatangi Pak Jalal untuk diberikan pekerjaan pada saat mereka kekurangan uang untuk biaya hidup. Selain itu, sinetron ini juga diwarnai dengan kisah cinta Aya dengan Azzam (Agus Kuncoro), teman masa kecil Aya, yang berliku-liku. Walau lamarannya sudah tiga kali ditolak, Azzam tetap pantang menyerah mengejar cinta Aya.[11] Sinetron ini dibintangi oleh Deddy Mizwar sebagai Bang Jack, Melki Bajaj sebagai Chelsea, Aden Bajaj sebagai Barong, Isa Bajaj sebagai Juki, Zaskia Adya Mecca sebagai Aya, Artha Ivano sebagai Kalila, Akri Patrio sebagai Ustadz Ferry, Annisa Suci Wulandari sebagai Haifa, Agus Kuncoro sebagai Azzam, Udin Nganga sebagai Bang Udin, Asrul Dahlan sebagai Asrul, Jarwo Kuat sebagai Pak Jalal, Tora Sudiro sebagai Baha, Anggia Jelita sebagai Marni, Deliana Siahaan sebagai Mak Juki, Yahya Zakhri sebagai Bang Uyan, Linda Leona sebagai Linda, Idrus Madhani sebagai Pak RW, Sheila Purnama Bulan sebagai Sheila, Dara KDI sebagai Dara, Otis Pamutih sebagai Bang Yongki dan lain-lain. Sinetron ini akan tayang dalam menyambut bulan Ramadan tahun 2009 ini. Dalam jilid III ini diceritakan Bang Jack yang sudah pergi berhaji tetapi ingin balik ke Mekah. Cerita juga akan mengalir seputar Barong, Juki, Chelsea, trio mantan narapidana yang kini sudah bergelar haji. Cerita juga akan mengeksplor lebih dalam mengenai romantisme cinta segitiga antara Azzam (Agus Kuncoro), Aya (Zaskia Adya Mecca) dan Kalila (Artha Ivano). Sinetron ini akan tayang setiap hari selama bulan Ramadan yang dimulai pukul 02.30 WIB hingga pukul 04.00 WIB. Lagu yang dipakai sebagai soundtrack adalah lagu “Para Pencari Tuhan” yang dinyanyikan oleh grup musik Ungu.

Kedua sinetron diatas sama-sama membidik umat Islam sebagai sasaran audiens utama. Sinetron “Muallaf” lebih membidik pada kaum abangan yang menjadikan tayangan sinetron religi sebagai sumber pengetahuan agama. Apabila dilihat dari waktu penayangannya yaitu setiap hari Senin-Jumat pukul 18.30 nampaknya sinetron ini lebih membidik pada ibu-ibu dan remaja putri. Waktu-waktu tersebut merupakan waktu istirahat untuk melepas kepenatan setelah setiap hari beraktivitas. Sasaran pada kaum abangan tersebut juga dapat dibaca melalui bintang-bintang yang dihadirkan sekaligus tema yang diangkat. Bintang-bintang yang dihadirkan adalah bintang-bintang yang memiliki pesona dan daya pikat seperti Syahrul Gunawan, Happy Salma dan Hengky Kurniawan. Bintang-bintang tersebut merepresentasikan ketampanan dan kecantikan yang menjadi daya tarik tersendiri dalam dunia hiburan. Industri kapitalis menganggap ini sebagai eksploitasi tubuh yang sangat menguntungkan untuk melipatgandakan akumulasi modalnya. Selain itu, walaupun tema yang diangkat dalam sinetron ini adalah seorang Muallaf -yang berarti orang yang baru masuk Islam- tetapi nuansa romantikanya justru yang nampak lebih kental. Romantika ataupun kisah cinta juga mempunyai daya jual yang tinggi karena cinta merupakan ekspresi dari kebutuhan psikologis setiap manusia.

Sementara itu sinetron “Para Pencari Tuhan” lebih membidik pada kalangan santri dan priyayi. Hal ini dapat dilihat dari tema yang diangkat dan juga jam tayang sinetron. sebetulnya tema yang diangkat agak berat yaitu mengenai pertobatan untuk mencari kebenaran. Para “pendosa” tersebut digambarkan pada sosok Chelsea (Melki Bajaj), Barong (Aden Bajaj), dan Juki (Isa Bajaj) yang mempunyai dosa berbeda-beda. Barong adalah mantan komplotan curanmor. Setali tiga uang, Juki yang mantan copet dan Chealsea yang mempunyai dosa sejenis. Namun, dengan kemasan yang apik dan tidak terkesan menggurui sinetron tersebut mendapat sambutan dari berbagai pihak. Termasuk dalam hal ini adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI). Lembaga ini mengapresiasikan dengan baik sinetron ini karena memberikan tuntunan kepada pemirsa tentang berbagai hal yang berangkat dari bersikap dan berprilaku Islami.[12] Berbeda dengan sinetron “Muallaf” yang nampak diawang-awang dan tidak menampakkan realitas yang sebenarnya, sinetron “Para Pencari Tuhan” lebih mengedepankan kehidupan sehari-hari yang jauh dari mimpi. Hal itu dapat dibaca dari setting kehidupan para tokohnya, pilihan kostum, dan juga bahasa yang dipakai. Semua merepresentasikan kondisi yang sewajarnya. Kondisi kehidupan sehari-hari.

Perspektif McDonaldisasi memandang komodifikasi sinetron religi ini kedalam empat aspek yakni efisiensi, kalkulabilitas, prediktabilitas, dan kontrol melalui teknologi nonmanusia.  Dalam analisis efisiensi, kedua sinetron diatas menerapkan pola penggarapan sinetron yang serba cepat-mulai dari penulisan scenario, syuting disejumlah lokasi, editing, mixing, sampai finishing semua dikerjakan serba instan dengan tuntutan cerita yang runtut. Akibatnya tayangan menjadi menurun secara kualitas. Efisiensi dilakukan dengan jalan memberikan kontrak ekslusif bagi para bintang sinetron. Dalam kontrak tersebut pemain sinetron di mintai untuk membintangi beberapa judul sinetron dalam rumah produksi yang sama. Tayangan sinetron religi membuat orang tidak perlu ke gedung film untuk melihat sebuah tayangan sinetron. Bisa dibayangkan repotnya kalau hanya ingin hiburan saja harus selalu pergi dari rumah. Kita hanya perlu duduk didepan televisi untuk dapat melihat tayangan televisi yang dapat juga menambah khasanah pengetahuan agama. Orang juga tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membaca novel-novel religius karena novel-novel tersebut telah diterjemahkan dalam bentuk sinetron. Tayangan sinetron religi menyediakan waktu yang cepat dan tidak perlu repot dalam menyediakan sarana hiburan televisi.

Analisis kalkulabilitas menempatkan kuantitas diatas kualitas. Pada fenomena tayangan sinetron religi dapat dibaca dari fenomena banyaknya jumlah sinetron-sinetron religi yang beredar pada stasiun-stasiun televisi. Padahal apabila dicermati lebih jauh, ternyata rumah produksinya adalah sama. Selain itu, terutama pada bulan Ramadan tayangan-tayangan dalam bentuk sinetron religius mengambil frekuensi tayang yang sering dan juga dengan durasi yang panjang. Orang yang menyaksikan tayangan ini tidak sadar kalau waktunya telah habis untuk menonton sinetron religi tersebut. Penonton terjebak pada strategi yang dibuat oleh pengelola stasiun untuk membuat mereka menjadi lebih tahan didepan televisi. Caranya adalah menyela dengan iklan apabila alur cerita mendekati klimaks. Strategi ini berfungsi untuk membuat orang menjadi penasaran sehingga tidak beranjak dari tempat duduknya.

Sinetron-sinetron religi mendasarkan tolak ukur audience rating (tingkat ketertontonan acara televise) dalam pola-polakerjanya. Audience rating ini juga untuk melihat banyaknya iklan yang terserap ke dalam sinetron. Pola ini menghasilkan output kerja tidak seimbang dimana bertahan atau tidaknya sebuah sinetron religi bergantung pada sedikit atau banyknya iklan yang diperoleh bukan pada kualitas yang sesungguhnya. Selain audience rating, sinetron religi juga menggunakan audience sharen yakni presentase dari jumlah rumah yang menggunakan televisi yang menyetel channel tertentu. Angka ini ditentukan dengan membagi jumlah orang yang menyetel channel tertentu dengan jumlah rumah yang menggunakan televisi.[13]

Audience rating ini merupakan satu kekuatan yang hegemonik yang mengatur dan menentukan strategi telivisi dalam menayangkan sinetron-sinetron religi. Pemikiran ini hanya memikirkan banyaknya jumlah episode sinetron dan bagaimana sinetron tersebut bertahan bahkan sampai berjilid-jilid. Bayangkan berapa jumlah episode sinetron “Muallaf” yang ditayangkan oleh Indosiar senin-jumat sejak bulan Juni hingga saat ini. Sinetron ini juga berpeluang menjadi beberapa jilid lagi mengingat tema-temanya bisa terus berkembang. Pada sinetron religi “Para Pencari Tuhan” sampai saat ini sudah jilid ketiga. Jilid pertama sinetron telah membuat 52 episode. Rencananya pada jilid ketiga ini PT Demi Gisela Citra Sinema selaku rumah produksi sinetron ini akan menayangkan 40 episode. Jumlah setiap episode ini dilakukan dengan cara-cara menciptakan alur-alur sempalan dari alur utama. Pada sinetron “Para Pencari Tuhan” misalnya alur cerita terbagi kedalam plot, Bang Jack dengan tiga muridnya, percintaan antara Azzam dan Aya, perseteruan antara Pak RW, Asrul dan Udin, konflik keluarga Ustad Feri dan kehidupan masa lalu tiga murid Bang Jack. Sebetulnya, eksploitasi untuk mendapatkan jumlah episode yang banyak juga bisa didapatkan dari menyusuri dan menyilangkan cerita dari masing-masing tokoh dan karakter. Misalnya dengan membangun plot cerita tentang percintaan Aya dengan salah satu murid Bang Jack.

Dalam analisis prediktabilitas atau keseragaman tayangan sinetron religi memproduksi tayangan yang sama. Sinetron yang kita lihat dari Jakarta akan sama apabila dilihat dari Surabaya. Tidak ada perbedaan sepanjang sinetron yang dilihat judul dan rumah produksinya sama. Sinetron-sinetron religi selalu memproduksi tema-tema yang sama yakni tema mengenai agama. Tema-tema yang diangkat biasanya seputar ajaran kebaikan, kateladanan dan bercerita mengenai sesuatu yang terpuji. Disamping itu nuansa simbol-simbol agama seperti jilbab, baju koko, peci, ustaz, mubalig, masjid, mengaji pasti selalu ada dalam setiap tayangan. Produksi keseragaman dilakukan untuk melembagakan tayangan sinetron religi. Mau dilihat atau ditonton dilokasi manapun tema maupun simbol-simbol yang dimunculkan akan sama dan seragam.

Produksi-produksi sinetron religi biasanya menggunakan bintang yang top dan mempunyai jam terbang yang tinggi. Para bintang tersebut umumnya terbagi menjadi kelas atas, tengah dan bawah. Secara kualitatif ukuran sosok bintang yang menduduki kelas atas adalah mereka yang sudah memiliki jam terbang tinggi, sering mendapatkan peran utama dan sangat dikenal di masyarakat. Pada sinetron “Muallaf” terdapat nama seperti Syahrul Hunawan, Hengky Kurniawan dan Happy Salma. Sedangkan pada sinetron “Para Pencari Tuhan” terdapat sederet bintang beken seperti Dedy Mizwar, Zaskia Adia Mecca, Grup Bajaj, Akri Patrio dan lainnya. Dalam logika kapitalis bintang yang top akan memberikan ketertarikan terhadap pemirsa. Dengan banyaknya pemirsa yang menonton, maka audience share nya juga akan tinggi. Dengan demikian situasi ini akan melahirkan iklan-iklan yang terdorong untuk masuk menjadi sponsor. Keuntungan buat rumah produksi, pemilik stasiun TV  dan pengiklan tentunya.

Definisi mutu sinetron religi tidak lagi dirumuskan dari ukuran seni peran seperti cerita dan skenario, penyutradaraan, akting para aktor, dan penggarapan secara keseluruhan. Ukuran mutu diukur oleh parameter industrial. Penilaian ini mengisyaratkan terjadinya kesesuaian antara supply produk dan jasa dengan harapan konsumen yang diukur denga audience rating. Dampaknya adalah terjadinya eksploitasi symbol-simbol budaya kelas atas, bertaburan wanita cantik dan pria tampan, tema lagu yang cocok dengan telinga secara umum, mengusung tema percintaan serta melakukan pembesaran konflik secara tidak wajar. Hal ini bisa diamati terutama pada sinetron “Muallaf.” Sinetron ini hanya menjual mimpi karena alur cerita yang ditawarkan tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

Sebuah analisis kontrol melalui teknologi nonmanusia ditunjukkan dengan bekerjanya kamera-kamera, lighting, efek visual, tata suara dan lainnya. Dalam hal ini manusia hanya berfungsi sebagai pengoperasi saja dari alat-alat dengan basis teknologi tersebut. Otoritas manusia terbatasi pada kemampuan mereka dalam mengoperasikan teknologi-teknologi tersebut

Kesimpulan

Dalam komodifikasi agama melalui sinetron religi, agama hanya dilihat sebagai komoditas dalam sistem pasar. Kaum kapitalisme mengambil sinetron religi sebagai sebuah sarana untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal ini terjadi bisa dilihat dari fenomena dua sinetron yang diangkat yakni sinetron “Muallaf” dan “Para Pencari Tuhan.” Pendidikan keagamaan yang tertanam didalam tema-tema yang diangkat hanyalah sebuah kamuflase untuk menarik pasar. Apabila pasar menyukai sinetron tersebut maka eksistensi sinetron religi akan terus berkembang, namun sebaliknya apabila masyarakat sudah mulai jenuh dengan tayangan-tayangan tersebut maka tayangan tersebut dengan sendirinya akan lenyap. Disinilah arti penting dari sebuah audience rating.

Mengikuti pola pespektif McDonaldisasi, tayangan-tayangan sinetron religi mempunyai kesamaan dengan restoran cepat saji yang mengusung semangat efektifitas, prediktabel, kalkulabilitas dan kontrol melalui teknologi nonmanusia. Prinsip-prinsip tersebut merekat kedalam sinetron religi yang diibaratkan sebagai restoran cepat saji. Efektif yang berarti sinetron bisa dilihat di layar kaca (televisi) tanpa harus lari kemana-mana. Produksi pola penggarapan sinetron yang serba cepat-mulai dari penulisan skenario, syuting disejumlah lokasi, editing, mixing, sampai finishing semua dikerjakan serba instan dengan tuntutan cerita yang runtut.

Prediktabel berarti mengusung keseragaman tema maupun alur cerita dan dapat dilihat dimana-mana dan selalu sama, mengusung simbol-simbol agama yang sama. Semua terstandar. Audience rating menjadi sesuatu yang hegemonik dalam mengatakan baik buruknya sebuah tayangan. Hal ini menciptakan kesadaran semu karena baik buruk menurut audience rating bukan merupakan kondisi baik bauruk yang sebenarnya. Bahkan rumah-rumah produksi biasanya meniru sinetron-sinetron religi yang mempunyai audience rating tinggi. Akibatnya karya seni dan kreativitas menjadi mandeg. Produksi-produksi sinetron religi biasanya menggunakan bintang yang top dan mempunyai jam terbang yang tinggi. Definisi mutu sinetron religi tidak lagi dirumuskan dari ukuran seni peran seperti cerita dan skenario, penyutradaraan, akting para aktor, dan penggarapan secara keseluruhan. Namun, ukuran mutu diukur oleh parameter industrial.

Kalkulabilitas berarti tayangan sinetron religi biasanya berdurasi panjang dengan frekuensi yang cukup sering dalam waktu sehari. Satu sinetron bisa menghabiskan berpuluh-puluh episode dan terdiri dari beberapa jilid. Rumah produksi lebih mengutamakan bintang yang top daripada mutu sinetron religi yang benar-benar mendidik dan menjadi cara lain dalam memperoleh pengetahuan agama.

Sebuah analisis kontrol melalui teknologi nonmanusia ditunjukkan dengan bekerjanya kamera-kamera, lighting, efek visual, tata suara dan lainnya. Dalam hal ini manusia hanya berfungsi sebagai pengoperasi saja dari alat-alat dengan basis teknologi tersebut. Otoritas manusia terbatasi pada kemampuan mereka dalam mengoperasikan teknologi-teknologi tersebut. Produser tidak dapat membuat sinetron religi apabila tidak menggunakan teknologi-teknologi tersebut

Daftar Pustaka

Fukuyama , Francis. 2007. The Great Disruptions: Hakikat Manusia dan Rekonstitusi Tatanan Sosial. Jakarta: Penerbit Qalam

Labib, Muh.2003. Potret Sinetron Indonesia: Antara Realitas Virtual dan Realitas Sosial. Jakarta: PT. Mandar Utama Tiga Books Division

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2008. Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern.bYogyakarta: Kreasi Wacana

Ritzer, George. 1985. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: CV. Rajawali

Ritzer, George. 2002.  Ketika Kapitalisme Berjingkrang: Telaah Kritis Terhadap Gelombang McDonaldisasi Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ritzer, George. 2008. Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Penerbit Juxtapose dan Kreasi Wacana

Sindhunata.1983. Dilema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyarakat Modern oleh Max Hokrkhemer dalam Rangka Sekolah Frankfurt. Jakarta: PT. Gramedia

Tesis

Nugroho, Panji Suryo.2008. Membongkar Mitos Musik Pop Religi dalam Mitologi Budaya Massa Islam di Indonesia: Semiotika Sampul Album Pop Religi Ungu. Semarang: Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Walisongo

Website

http://www.marxists.org/

http://kili.multiply.com/journal

http://www.wikipedia.co.id

http://www.kompas.com/

 

 

 


[1] Lihat Francis Fukuyama, The Great Disruptions: Hakikat Manusia dan Rekonstitusi Tatanan Sosial. (Jakarta: Penerbit Qalam, 2007) Hal 4

[2] Diambil dari artikel Azyumardi Azra yang pernah dimuat di Harian Republika 11 September 2008

[3] Lihat George Ritzer, Teori Sosial Postmodern (Yogyakarta: Penerbit Juxtapose dan Kreasi Wacana, 2008) Hal 144

[4] Dapat diakses http://www.marxists.org/glossary/terms/c/o.htm, data dari situs ini ditelusuri dari  http://kili.multiply.com/journal

[5] Diambil dari  http://kili.multiply.com/journal

[6] Lihat Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyarakat Modern oleh Max Hokrkhemer dalam Rangka Sekolah Frankfurt (Jakarta: Gramedia, 1983) Hal 121

[7] Lihat George Ritzer. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (Jakarta: CV. Rajawali,1985) hal 40-41

[8] Lihat George Ritzer, Ketika Kapitalisme Berjingkrang: Telaah Kritis Terhadap Gelombang McDonaldisasi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2002) Hal 62

[9] Lihat Lihat George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2008) Hal 616

[10] Lihat Muh Labib, Potret Sinetron Indonesia: Antara Realitas Virtual dan Realitas Sosial (Jakarta: PT. Mandar Utama Tiga Books Division, 2003) Hal 18-19

[11] Lihat http://www.wikipedia.co.id

[12] http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/12/22400137

[13] Wimmer dan Dominic seperti yang dikutip oleh Muh Labib, Potret Sinetron Indonesia: Antara Realitas Virtual dan Realitas Sosial (Jakarta: PT. Mandar Utama Tiga Books Division, 2003) Hal 28

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s